Mendirikan Sholat Termasuk Rukun Islam

Mendirikan Sholat Termasuk Rukun Islam

Sholat adalah ibadah badaniyah dzohiroh paling utama, diteruskan puasa, berangkat haji lalu mengeluarkan zakat. adapun ibadah badaniyah qolbiyah adalah seperti iman, ma’rifat, tafakur, sabar, syukur, roja’, tawakal dan lain sebagainya.

Sholat menurut Bahasa mempunyai arti “do’a” dan menurut istilah fiqih mempunyai makna : “beberapa ucapan dan gerakan badan yang khusus, yang diawali dengan takbir (allahu akbar) dan di akhiri dengan salam”.

Sholat yang wajib di kerjakan oleh orang islam di dalam sehari semalam ada lima (5):

  1. Subuh
  2. Dhuhur
  3. Ashar
  4. Maghrib
  5. ‘isyak

Tersebut dalam kitab sohih bukhori “ allah mewajibkan sholat kepada umatku (Muhammad) pada malam isro’ mi’roj sebanyak 50 kali dalam sehari semalam, namun aku (Muhammad) tidak bosan2 meminta keringanan kepada allah agar di kurangi, sampai akhirnya di berikan keringanan menjadi 5 kali dalam sehari semalam.”

Syarat-syarat orang wajib mengerjakan sholat adalah:
1. Islam, (orang non islam asli tidak wajib sholat)
2. Baligh/dewasa, (anak kecil yang belum baligh tidak wajib sholat)
3. Aqil/berakal, (orang gila/ayans juga tidak wajib)
4. Suci dari haid dan nifas

Makruh sholat nya seseorang ketika dalam keada’an :
1. Menahan  berak/buang air besar
2. Menahan  kencing
3. Menahan dua-duanya berak dan kencing
4. Menggunakan satu kaki dalam sholat
5. Merapatkan kedua kaki seolah seperti di ikat dengan tali
6. Menggunakan muzah ( sepatu zaman dulu) yang sempit
7. Lapar dan makanan sudah di hidangkan
8. Dalam keada’an sangat haus kecuali sedang puasa
9. Menahan kentut
10. Hadirnya sesuatu yang di idamkan..
11. Sangat ngantuk
12. Di Area pemakaman
13. Di tempat yang kotor tapi tidak najis
14. Di tempat penyembelihan hewan
15. Di pemandian
16. di sebelah genangan air yang buat minum onta/ hewan
17. Di tempat (dalam rumah) yang biasah buat lewat anggota keluarga
18. Di gereja/di tempat peribadatan agama lain
19. di Tempat yang biasa buat ma’siat (minum-minuman/judi)

hukum makruh di atas itu ketika waktu solat masih lama, adapun ketika waktu sholat sudah sempit/ mepet, maka tidak ada hukum makruh untuk melaksanakan solat dalam kead’an-keada’an di atas.

hukum makruh adalah meninggalkannya lebih utama dari pada mengerjakanya.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *